2020/10/22

E | Blog

Edy Susanto Personal Blog

Heroware DRC in a Box

3 min read

herowKali ini saya akan coba untuk sharing pengalaman saya menggunakan appliance Heroware, sebuah device yang berhubungan dengan disaster recovery. Artikel ini bukan artikel promosi yee, ini sharing pengalaman saja karena kebetulan saya mengkonfigurasi dan menggunakan alat ini.

Konsep Heroware sendiri seperti di cuplik dari situs aslinya  “ HEROware’s goal is simple, to create the best Backup and Disaster Recovery Solution on the market today.”. Jadi memang device ini di fungsikan utamanya sebagai backup dan salah satu opsi dalam pembangunan Disaster Recovery. Sebab seperti yang kita ketahui bahwa membangun sebuah DRC memiliki banyak pertimbangan baik dari segi infrastructure perangkat keras ataupun perangkat lunaknya. Oleh karena itu memiliki DRC adalah sebuah jaminan investasi terhadap kelangsungan operasional suatu perusahaan / organisasi, dalam kerangka tersebut pula maka membangun DRC membutuhkan anggaran yang tidak sedikit.

Banyak pula appliance yang memiliki kemampuan yang mirip / setipe dengan Heroware, itu pula makanya saya katakana Heroware hanya salah satu opsi dalam pembangunan DRC.

Heroware di fokuskan untuk menjadi solusi terhadap kelangsungan usaha dari suatu organisasi ( Business Continuity Solution) dengan menggunakan perangkat keras, perangkat lunak, San Storage , virtualisasi dan Replikasi (data).

Appliance ini memiliki kemampuan failover cukup cepat untuk HA servers yang diprotek sama dia yaitu dalam kurun waktu sekitar 4 menit jika terjadi sesuatu dengan server utama. Selain itu heroware juga memilik kemampuan backup dalam bentuk image ( baremetal). Adapun proses backup nya menggunakan teknologi byte to byte maksudnya adalah sekecil delta perubahan di server utama bisa langsung di replikasi dan mirroring ke Heroware.

Kalau saya lihat ya didalam Heroware itu ada aplikasi yang namanya Double Take dan aplikasi ini yang kemudian bertanggung jawab terhadap syncronisasi antara appliance dan server server yang di proteksi. Sementara ketika syncronisasi itu selesai maka hasil dari akan ada file dengan ekstensi *.vhd dimana ketika kita switch on ke hyper V maka hasil itu bisa langsung di “naik kan “ secara live.

Tampilan dashboard kendali heroware cukup mudah dipahami hanya memang terkesan agak lambat responnya kalau di saya ( bisa jadi karena server backup saya HA nya lumayan banyak), dan sayang sekali Heroware hanya bisa membackup system operasi Windows. Kalau rekan rekan semua ada yang bermain di area diluar Windows, lupakan saja Heroware :D, hehhehe. Tapi saya akan share nanti appliance sejenis yang bisa jalan di dua habitat baik windows ataupun linux.

Terus kalau mau menggunakan Heroware saya sarankan sih punya pengalaman otak atik Hyper V atau Vmware , at least pernah mainan Virtualisasi lah karena saya kemarin sempat mengalami masalah ada setting di Virtual Switch nya yang kurang pas sehingga pas virtual server nya naik gak mau “ngobrol” sama Heroware yang notabene adalah host nya. Akhirnya setelah otak atik di sisi virtual network nya Alhamdulillah problems solve.

Dan yang “agak malesin “ adanya setting kudu nambahin config di etc host yang akan diprotek, buat saya ini malesin karena udah kebiasa model GUI , wkkwkw. Anyway kemarin saya hubungkan koneksi di HQ dengan Heroware yang sengaja saya collo di luar pulau melalui Vpn Site to Site sehingga sekarang saya memiliki dua segment network yang berbeda yang bisa di browse dari satu sisi ke sisi yang lain.

Kelebihan Heroware adalah tadi Dashboardnya yang lumayan sederhana, kemudian sudah ada aplikasi double take nya, terus bisa handle server sekalian sama storage nya, misalnya kasusnya satu server di koneksi dengan storage via fiber channel nah kalau server ini di protek maka otomatis database nya ikut ke angkut juga. Dari sisi anggaran juga tergolong murah dibandingkan dengan membangun DRC 1 :1 , boleh saya katakan ini adalah DRC in a Box, dalam 1 Box Appliance kita bisa punya mini DRC.

See You in Another Articles